Aku selalu berandai-andai untuk tiba-tiba bisa kembali ke masa-masa kelas satu tsanawi, tapi ilmuku di umur seperti yang sekarang ini, jadi aku berdaulat untuk mempelajari apapun sesuka hati ku.
Aku akan mengabaikan Matematika, Ipa dan fokus ke ilmu-ilmu yang kupelajari saat ini. Mungkin menghafal tadzhib plus bulughul maramnya. Alfiyah buat nahwunya, Sofwatu zubad untuk fiqihnya. Apalagi jika ditambah sentuhan Tashilul Wushul dan Kifayatul akhyar serta Iqna untuk jajanan sehari-harinya.
Ah, itu sempurna sekali. Andai saja.
Atau, aku tiba-tiba saja kembali ke delapan bulan lalu, saat awal-awal libur corona, aku akan bingung pada awalnya, tapi akhirnya, setelah mencoba keras untuk memahami, aku gunakan saja 8 bulan itu untuk belajar, cukup menghafal tadzhib, murojaah fathul qorib bersama doktor labib, membaca-baca alfiah dan kifayah. Hingga lewatlah 8 bulan.
Setelah 8 bulan itu berlalu, ketika aku ingin kembali ke pesantren, ketika semuanya sudah bersiap, ketika aku juga mulai bosen di rumah, ketika itu, secara tiba-tiba aku kembali mengulang 8 bulan itu [ini putaran kedua] , aku punya tambahan waktu lagi, tapi aku juga mulai emosi, akhirnya aku sibukan dengan bermain-main, nonton film sebanyak-banyak mungkin.
Lagipula 8 bulan sebelum ini juga aku sudah habiskan buat belajar mati-matian.
Ringkas ceeita, diakhir-akhir delapan bulan itu aku baru tersadar kalau aku diberi waktu tambahan bukan agar bisa disia-siakan tapi untuk memperluas kekuatan intelektualku, untuk tanpa henti mempelajari hal-hal baru.
Tebak saja, diakhir-akhir akan kembalinya aku ke pesantren, ketika aku mampir di warmindo depan pucangsawit, secara tiba-tiba, ketika itu juga, aku tiba sekali lagi di masa-masa siklus pengulangan delapan bulan (omong-omong ini sudah putaran yang ketiga). Namun, kali ini aku membawa kesadaran yang berbeda, aku benar-benar belajar.
Mulai dari bahasa inggris mungkin, biar keren aja. Hafalan Al-Quran, belajar jadi pembicara. ;)
Hingga 8 bulan seperti itu berulang secara terus-menerus. sampai kalau ditotal, 40 tahun sudah berlalu, entah ada berapa bulan yang sama, 8 bulan yang sudah aku lalui, pikiranku sudah benar-benar dewasa, ilmuku sudah sangat-sangat luas, dan hari itu juga, ketika kupikir akan kembali lagi ke delapan bulan lalu, siklus delapan bulan ini berakhir.
Aku berhasil kembali ke pesantren, aku melanjutkan hari seperti bisa, aku tidak lagi mengulang 8 bulan seperti sebelum-sebelumnya. Aku kembali normal.
Aku jadi anak dengan pengetahuan yang sangat luas. [dan cerita selanjutnya akan diisi dengan hal-hal sombong, hahaha]
Ah.. Andai saja.
Oke
Kembali ke masa sekarang.
Mari menghitung kenyataan saat ini
Kenyataannya hari ini adalah, aku masih 17 tahun, aku maaih punya 23 tahun sebelum umur 40 Aku masih cukup punya banyak waktu. Jadi, mau menunggu apalagi? Apa yang sekarang bisa kukerjakan?
Andai-andai tadi mustahil untuk ada, mustahil untuk terjadi, kenyataannya, aku masih punya hari ini dan hari-hari di tahun-tahun esok. Aku cuma harus memperlakukan setiap hari sebaik seperti perlakuanku pada hari di delapan bulan itu.
Sekian.
Komentar
Posting Komentar