Satu hal paling memuakan kalo berbicara soal waktu adalah penundaan karna terlanjur nggak semangat di awal. Yah, mungkin ini hanya berlaku bagiku.
Hari rabu, berarti jadwal kami selaku kelas dua buat mengajukan hafalan, sialnya, sore itu, di kelas atas, aku dan audit malah main-main sendiri.
Berawal dari aku yang mengawali coretan pake sepidol di muka.
Lalu saling mengejar dengan penghapus.
Dilanjut pake obat pel.
Sampai akhirnya kami berdua terjun ke medan pertempuran air.
Gayung dan sabun yg diaduk jadi senjata yang mematikan, menyenangkan juga sih.
Tapi saat itu waktunya benar-benar nggak cocok.
Aku serasa kehilangan momen sendiri, serasa hari itu jadi hari paling menyedihkan dalam minggu ini. Sampai-sampai aku menghitung Oportunity Cost dari habis ashar sampai maghrib. Dan aku berjanji pada diri sendiri untuk cari modal waktu dan eksekusi selagi yang lain tertidur atau apalah (pokonya yg lain harus nganggur dan aku akan hafalan/belajar)
Nah........
Setelah itu, setelah di pikir-pikir. Aku jadi bersykur juga punya kesadaran seperti ini. Seperti kata ibnu masud kalau tidak salah: Hari yang paling aku sesali adalah hari dimana umurku berkurang dan ilmuku tidak bertambah.
Udah sih, gitu aja, menurutku di umur-umur seperti umurku sekarang ini, kesadaran atas waktu adalah hal yang bisa di bilang sangat sangat sangat penting untuk dimiliki.
Aku beruntung, karna seenggaknya aku sudah memiliki sebagian kesadaran itu, dan aku ingin sekali bilang ke orang-orang, menyadarkan mereka betapa pentingnya masalah ini. (Mulai dramatis nih)
Sudah kucoba sih, beberapa jadi ada yg kayaknya berubah jadi lebih menghargai tiap detik dari hidupnya .Tapi sebagian lain tetap pada kebiasaannya. (ya sudahlah)
Contoh: Jalan muter-muter ga jelas dari lorong belakang ke tangga depan, naik keatas, ngecek2 kelas, akhirnya waktu mampir ke kamar ikutan nimbrung buat ngobrol bareng orang yang ada di kamar.
---
Bentar, terus apa hubungannya dengan kalimat pembuka tulisan ini?
Hubungannya adalah ketika selesai bermain-main, aku malah tidak segera hafalan, karna menurutku sore itu udah berantakan, sekalian aja main-main, karna aku tipe-tipe orang yang pengen segalanya sempurna, jadi kalo ada yang ga sempurna ya sekalian aja nggak usah.
Tapi itu buruk dan aku salah besar. Bagaimana jika kesalahan itu tidak hanya ada pada satu sore, tapi terjadi di priode waktu satu bulan?
Masa iya sebulan itu aku hamburkan sekalian lantas menunggu bulan depan untuk membangun ulang rencana-rencana.
Bagaimana kalo rentang priodenya satu tahun?
Masa iya kalo 8 bulanku hancur (kayak selama libur pandemi, ga hancur-hancur banget sih, aku khatam 115 jam fathul qorib syaikh labib ; ) ) lantas sisa 4 bulan lainnya aku sia-siakan.
Kalo ada gelas dengan setengah air di dalamnya.
Jangan pikirkan gelas itu setengah kosong.
Pikirkan kalo gelas itu setengah penuh.
Hehe
Komentar
Posting Komentar